Bolehkah Saya Berpendapat?

Setelah diamati, rasanya di blog ini saya jarang banget bikin tulisan yang berupa opini-opini ya... Lebih sering menulis tentang cerita atau pengalaman-pengalaman pribadi saya. Ya, saya memang bukan orang yang mudah menyampaikan pendapat. Dalam kehidupan sehari-hari pun saya ga mudah menyampaikan pendapat pribadi saya, apalagi kalo ngomong langsung di hadapan orang banyak hiiiiii kalo ga kepepet ga mungkin deh.You might say saya ini jiker, penakut, beraninya ngomong di belakang atau apalah terserah. Tapi  inilah saya. Bukan orang yang vokal. Bukan orang yang dengan mudahnya menyampaikan pemikiran di muka umum. Bukan orang yang pandai berbicara bak aktivis-aktivis kampus itu.

Tapi seiring berjalannya kehidupan, apalagi saat tumbuh menjadi orang-orang dewasa, menyampaikan pendapat kita itu menjadi sesuatu yang sangat perlu, penting, krusial, dan saya menyadari itu. Tak sedikit organisasi di kampus yang saya ikuti, dan inilah yang saya jadikan wahana untuk berlatih berpendapat. Tapi tetap saja sih cuma pendapat-pendapat ringan yang berani saya lontarkan di muka umum. Kalo kiranya pemikiran saya sangat berbeda dengan forum, saya masih lebih memilih untuk menelan sendiri pemikiran-pemikiran itu. Malas berdebat. Yes, that's the point! Saya malas berdebat, apalagi sama orang-orang yang pinter ngomong dan udah sering berdebat such as aktivis-aktivis kampus itu.

Saya lebih memilih diam, manut, 'nggah nggih nggah nggih' kalo orang jawa bilang, alias ngikut aja deh sama keputusan. Mungkin ini emang bawaan dari darah Solo yang mengalir di diri saya, yang kalem,  yang ga suka konflik, yang apa aja oke yang penting damai.

Kadang saya iri (dan kesel juga) sama orang yang bisa dengan mudahnya melontarkan pendapatnya di muka umum secara langsung. Mereka yang walaupun kadang dasar pemikirannya ga terlalu bagus tapi bisa dengan baik menyusun kata demi kata hingga pendapat mereka terkesan baik saat didengar. This is not about the idea itself, but how they state their idea. Kupikir begitulah budayanya (setidaknya di kampusku).

Public speaking saya ga bagus, bahkan bisa dibilang sangat buruk. Makanya saya lebih suka nulis. Setidaknya ada lebih banyak waktu untuk berpikir sebelum saya berpendapat. Kan kata orang "Think before you talk!"

Mungkin ini bisa dibilang sifat yang kurang baik, tapi saya sering banget kesel sama orang yang suka ngomong di depan umum tapi ga konsisten sama apa yang diomongin. Contoh sederhananya, ada orang di kampus saya yang cukup saya kenal, dia suka ngomong, suka nulis juga sih, dan dulu dia sering banget ngutarain pendapatnya kalo dia ga setuju sama yang namanya pacaran, bawa-bawa agama, bawa-bawa pendapat orang lain, dan selalu nyebutin kalo dia sedang berusaha untuk meperbaiki diri memantaskan diri lalalala... pokoknya nggak dengan jalan pacaran. Dan puffff! beberapa saat kemudian dia deket sama cowok, awalnya sih ngakunya ga pacaran, cuma berkomitmen, tapi kenyataannya... anak kecil juga tau kalo hubungan kayak gitu namanya pacaran.

Ada juga oknum lain sebagai contoh. Dia yang dulu selalu bilang gasuka berkecimpung di dunia ini, ga suka sama kehidupan di organisasi itu, tapi pada akhirnya mau juga pas dikasih jabatan di organisasi itu. Okay fine, orang emang bisa berubah. Toh "Tidak ada yang tidak berubah di dunia ini kecuali perubahan itu sendiri." Tapi ya tau gitu dulu gausah segitunya juga kaliiii gembar gembornya...

Aduh tulisan kali ini agak emosional ya? hahaha... ada titipan quote nih dari temen saya...
Tidak setuju? tidak masalah, opini anda tidak akan mempengaruhi kenyataan hidup saya.”- Maratush Soliha.

Jakarta, 21 June 2013
Hesti Nuraini

This entry was posted on June 21, 2013 and is filed under . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response.

3 Responses to “Bolehkah Saya Berpendapat?”

  1. muehehe kan di kampus orang yang kayak gitu ga cuma kamu kak :p

    ReplyDelete
  2. ahahaha, kalo pembelaanku sih ada di tulisanmu yg setelah ini :'D

    ReplyDelete