Potensi Kota Solo (ku) tercinta ♥ - part1

No Comments »

Kota Surakarta atau yang lebih kerap disapa dengan Kota Solo memiliki potensi yang sangat besar untuk menjadi salah satu (meeting, incentive, convention, exhibition city) di Indonesia. Mulai dari potensi budaya, pariwisata, sampai perdagangan, semua dikelola dengan baik oleh pemerintah Kota Surakarta pimpinan Bapak Joko Widodo yang akhir-akhir ini namanya mencuat berkat kesuksesannya memimpin kota ini.

Keraton Kasunanan

Istana Mangkunegaran
Potensi yang paling menonjol adalah pariwisatanya. Ya, Kota Solo memang memiliki banyak sekali tempat-tempat yang sangat menarik menarik untuk dikunjungi diantaranyayang paling terkenal adalah Keraton Kasunanan juga disebut Keraton Surakarta Hadiningrat, dibangun pada tahun 1745 oleh Raja Paku Buwono ke II. Ini merupakan pokok kraton Surakarta, dan dibangun pada waktu bersamaan dengan kota ini ditemukan. Keraton ini dibuka untuk umum setiap hari kecuali hari Jumat. Masih ada satu lagi bangunan keraton yang ada di Solo, yaitu  Istana Mangkunegaran yang menjadi tempat penyimpanan kesenian dan budaya yang lain. Tanah milik  kerajaan itu diisi banyak harta pusaka yang tak ternilai dan koleksi yang sangat indah, sebagian besar berasal dari Majapahit (1293 - 1478) dan Mataram (1586 - 1755) masa kekaisaran, tarian topeng klasik, wayang orang (tarian drama), pakaian, wayang kulit dan wayang kayu, patung-patung religius, perhiasan dan benda-benda antik serta pusaka- pusaka yang tidak terhitung nilainya. Selain dua keraton, ada lagi tempat bersejarah yang tak kalah menarik untuk dikunjungi,yaitu  Museum Radya Pustaka Surakarta. Di museum ini tersimpan koleksi benda-benda kuno yang mempunyai nilai seni dan sejarah yang tinggi, antara lain : beberapa arca batu dan perunggu dari zaman Hindhu dan Budha. Koleksi keris kuno dan berbagai senjata tradisional, seperangkat gamelan, wayang kulit dan wayang beber, koleksi keramik dan berbagai barang seni lainnya.

Kampung Batik juga menjadi tujuan wisata yang patut dicatat karena Batik merupakan karya seni tradisional yang menjadi salah satu ciri khas kota Solo. Ada dua kampung batik yang ada di kota Solo, yaitu Kampung Batik Laweyan dan Kampung Batik Kauman.  Kampung yang memiliki 20-30an home industri ini menjadi langganan dari para pembeli yang sudah terjalin secara turun temurun dan wisatawan mancanegara (Jepang, Eropa, Asia Tenggara dan Amerika Serikat). Keunikan yang ditawarkan kepada para wisatawan adalah kemudahan transaksi sambil melihat-lihat rumah produksi tempat berlangsungnya kegiatan membatik. Artinya, pengunjung memiliki kesempatan luas untuk mengetahui secara langsung proses pembuatan batik. Bahkan untuk mencoba sendiri mempraktekkan kegiatan membatik. Disamping produk batik, kampung batik Laweyan dan Kauman juga dilingkupi suasana situs-situs bangunan bersejarah berupa bangunan rumah joglo, limasan, kolonial dan perpaduan arsitektur Jawa dan Kolonial. Bangunan-bangunan tempo dulu yang tetap kokoh menjulang ditengah arsitektur modern pusat perbelanjaan, lembaga keuangan (perbankan dan valas), homestay dan hotel yang banyak terdapat disekitar kampung kauman. Fasilitas-fasilitas pendukung yang ada di sekitar kampung kauman ini jelas menyediakan kemudahan-kemudahan khusus bagi segenap wisatawan yang berkunjung dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan lain di luar batik.

Solo Batik Carnival






Kota Solo telah menjadi bagian dari World Heritage Cities for Euro-Asia yang ditetapkan UNESCO, dan telah menjadi Tuan Rumah International Conference of World Heritage Cities for Euro-Asia pada Oktober 2008.  Sejak tahun 2006, Kota Solo telah menjadi Tuan Rumah untuk 440 pertunjukan seni, meliputi tarian tradisional, pertunjukan musik dan teater. Sebagai tambahan, kota ini juga mempunyai  Institut Seni Indonesia (ISI-Surakarta), yang menawarkan beragam program jurusan seni tradisional, termasuk ‘karawitan’ dan ‘wayang’. Juga diadakannya Solo Batik Carnival  setiap tahun yang telah berhasil menarik banyak minat  wisatawan asing. Potensi budaya kota solo yang lain adalah Wayang Orang Sriwedari yang tampil Setiap hari (Pukul 20.00 - 23.00) di Gedung Wayang orang Sriwedari yang berada di kompleks Taman Hiburan Sriwedari. Masih ada lagi Ketoprak (bahasa Jawa: kethoprak) yaitu sejenis seni pentas yang berasal dari Jawa. Dalam sebuah pentasan ketoprak, sandiwara yang diselingi dengan lagu-lagu Jawa, yang diiringi dengan gamelan disajikan yang tampil setiap hari pukul 20.00 di Taman Balekambang.


... lanjut ke part 2 untuk potensi Kota Solo yang lainnya ...

Bandung, 6 March 2012
Hesti Nuraini 

Solo Car Free Day

No Comments »

Minggu pagi, Kota Solo. Pasti yang pertama kali terbersit di benak adalah...  


SOLO CAR FREE DAY

Ya, di sepanjang Jalan Slamet Riyadi yang lebar jalannya lebih dari 10m dan panjangnya mencapai 5km ini tiap hari minggunya pukul 6-9 pagi dibebaskan dari kendaraan bermotor. Bisa kebayang kan gimana luasnya tempat ini?

Dulu saat awal banget program ini dilaksanakan oleh Pemerintah Kota Solo, SCFD belum seramai sekarang. Saya masih ingat betul pas opening pertama kalinya waktu itu saya kelas 3 SMA yang sedang menunggu pengumuman kelulusan Ujian Nasional, saya sepedaan sendirian dari Monumen Gladag sampai Tugu Purwosari bolak-balik, sepanjang jalan ngelewatin anak-anak TK, SD, dan SMP yang olahraga dan main-main permainan tradisional macem betengan dan gobak sodor. Menyenangkan sekali rasanya seperti kembali ke masa kecil, sepedaan dengan udara yang segar :D

Minggu kedua dan minggu-minggu selanjutnya saya hampir tidak pernah absen untuk menghabisakn pagi di SCFD, bersama seorang teman dekat. Kami bersepeda atau kadang cuma jalan-jalan, sering ada juga festival-festival tertentu yang diadakan disana, seperti Solo Batik Carnival, pre-event Solo International Ethnic Music, pre-event Pemilihan Putra Putri Solo, dan event-event lain yang diadakan oleh Pemkot Solo.

Saat mulai kuliah (di Bandung) saya terpaksa melewatkan waktu ber-CFD di Solo. Walaupun di Bandung juga ada Dago Car Free Day di Jalan Juanda dekat kampus, namun suasananya tidaklah sama dengan SCFD. Di Dago sangatlah ramai dan berdesak-desakan karena memang jalannya yang tidak selebar Jalan Slamet Riyadi sehingga sangat penuh dan susah untuk sepedaan.

Kemarin Minggu 8 April 2012 yang lalu saya yang kebetulan lagi libur menyempatkan untuk ber-CFD-ria bersama keluarga di Solo.
Sepedaan bersama keluarga di CFD

Kami mulai jalan dari Monumen Gladag (yang memang kebetulan dekat dengan rumah) ke arah barat. Namun ternyata suasana SCFD sudah berbeda sejak terakhir kali saya kesana. Semakin kesini SCFD semakin ramai, penuh, dan padat, hampir seramai Dago. Mungkin karena waktu itu di depan Stadion Sriwedari sedang ada Institut Seni Indonesia (ISI Solo) yang menggelar pameran seni mereka di tengah jalan sehingga jalanan penuh dan sulit untuk bersepeda. Kemudian saya naik sepeda terus ke barat, di depan Solo Grand Mall ternyata ada Karnaval Drum Band dari anak-anak SD se-Solo jadi makin rame aja deh jalannya. Tapi saya seneng banget karena bikin jadi inget jaman kecil saya suka banget Drum Band :’)
pameran dari ISI Solo

Karnaval Drum Band

patroli polisi di SCFD


Walaupun suasana di SCFD sekarang ini sudah cukup banyak berubah, namun nuansanya tidak akan pernah terantikan oleh CFD dimanapun, walaupun teman dekat itu pun kini sudah tidak ada lagi, kebahagiaan itu tak akan berubah sampai kapanpun. Kebahagiaan saat menelusuri Jalan Slamet Riyadi itu dengan sepeda kesayanganku :)


nb: tulisan ini kemudian saya ikutsertakan dalam Kompetisi Tulisan Kesan Tentang Solo di http://kesan.tentangsolo.web.id


*seluruh gambar merupakan koleksi pribadi penulis*


Bandung, 8 April 2012
Hesti Nuraini

Pagelaran Sendratari "Legenda Reyog Ponorogo" TW 41 PSTK ITB

No Comments »

Reyog Ponorogo: salah satu warisan budaya Jawa yang diakui dunia. Mengapa?

Ditampilkan dengan menghadirkan topeng kepala Singa dengan mahkota burung merakseberat 50-60 kg yang dibawa dengan GIGI! Kenapa bisa?

merupakan lambang dari Singa Barong. Siapakah dia?

Sebenarnya bagaimana asal-usul Reyog? Bagaimana ceritanya?





Legenda Cerita Reyog 

Reyog dimanfaatkan sebagai sarana mengumpulkan massa dan merupakan saluran komunikasi yang efektif bagi penguasa pada waktu itu. Ki Ageng Mirah kemudian membuat cerita legendaris mengenai Kerajaan Bantaranangin yang oleh sebagian besar masyarakat Ponorogo dipercaya sebagai sejarah. Adipati Batorokatong yang beragama Islam juga memanfaatkan barongan ini untuk menyebarkan agama Islam. Nama Singa Barongan kemudian diubah menjadi Reyog, yang berasal dari kata Riyoqun, yang berarti khusnul khatimah yang bermakna walaupun sepanjang hidupnya bergelimang dosa, namun bila akhirnya sadar dan bertaqwa kepada Allah, maka surga jaminannya. Selanjutnya kesenian reyog terus berkembang seiring dengan perkembangan zaman. Kisah reyog terus menyadur cerita ciptaan Ki Ageng Mirah yang diteruskan mulut ke mulut, dari generasi ke generasi. 

Menurut legenda Reyog atau Barongan bermula dari kisah Demang Ki Ageng Kutu Suryonggalan yang ingin menyindir Raja Majapahit, Prabu Brawijaya V. Sang Prabu pada waktu itu sering tidak memenuhi kewajibannya karena terlalu dipengaruhi dan dikendalikan oleh sang permaisuri. Oleh karena itu dibuatlah barongan yang terbuat dari kulit macan gembong (harimau Jawa) yang ditunggangi burung merak. Sang prabu dilambangkan sebagai harimau sedangkan merak yang menungganginya melambangkan sang permaisuri. Selain itu agar sindirannya tersebut aman, Ki Ageng melindunginya dengan pasukan terlatih yang diperkuat dengan jajaran para warok yang sakti mandraguna. Di masa kekuasaan Adipati Batorokatong yang memerintah Ponorogo sekitar 500 tahun lalu, reyog mulai berkembang menjadi kesenian rakyat. Pendamping Adipati yang bernama Ki Ageng Mirah menggunakan reyog untuk mengembangkan kekuasaannya. 

Reyog mengacu pada beberapa babad, Salah satunya adalah babad Kelana Sewandana. Babad Klana Sewandana yang konon merupakan pakem asli seni pertunjukan reyog. Mirip kisah Bandung Bondowoso dalam legenda Lara Jongrang, Babad Klono Sewondono juga berkisah tentang cinta seorang raja, Sewondono dari Kerajaan Jenggala, yang hampir ditolak oleh Dewi Sanggalangit dari Kerajaan Kediri. Sang putri meminta Sewondono untuk memboyong seluruh isi hutan ke istana sebagai mas kawin. Demi memenuhi permintaan sang putri, Sewandono harus mengalahkan penunggu hutan, Singa Barong (dadak merak). Namun hal tersebut tentu saja tidak mudah. Para warok, prajurit, dan patih dari Jenggala pun menjadi korban. Bersenjatakan cemeti pusaka Samandiman, Sewondono turun sendiri ke gelanggang dan mengalahkan Singobarong. Pertunjukan reyog digambarkan dengan tarian para prajurit yang tak cuma didominasi para pria tetapi juga wanita, gerak bringasan para warok, serta gagah dan gebyar kostum Sewandana, sang raja pencari cinta. 

Versi lain dalam Reyog Ponorogo mengambil kisah Panji. Ceritanya berkisar tentang perjalanan Prabu Kelana Sewandana mencari gadis pujaannya, ditemani prajurit berkuda dan patihnya yang setia, Pujangganong. Ketika pilihan sang prabu jatuh pada putri Kediri, Dewi Sanggalangit, sang dewi memberi syarat bahwa ia akan menerima cintanya apabila sang prabu bersedia menciptakan sebuah kesenian baru. Dari situ terciptalah Reyog Ponorogo. Huruf-huruf  mewakili sebuah huruf depan kata-kata dalam tembang macapat Pocung yang berbunyi: Rasa kidung/ Ingwang sukma adiluhung/ Yang Widhi/ Olah kridaning Gusti/ Gelar gulung kersaning Kang Maha Kuasa. Unsur mistis merupakan kekuatan spiritual yang memberikan nafas pada kesenian Reyog Ponorogo.

Penasaran?
Saksikan! 

Sendaratari Legenda
REYOG PONOROGO
Minggu, 22 April 2012
19.00 wib - selesai
@Teater Tertutup Taman Budaya Jawa Barat, Dago Tea House


by PSTK ITB
Perkumpulan Seni Tari dan Karawitan Jawa ITB



Bandung, 18 April 2012
Hesti Nuraini