Sekali Teman Tetap Teman

Aku menggetok kepalanya dari belakang dengan buku catatan Fisikaku, 
"Awas ya kamu, Ko! Kembaliin nggak pulpennya! Itu baru aku beli kemarin. Pulpen yang kemarin kamu ilangin aja belum diganti."
Niko, temanku yang satu ini memang punya keahlian dalam hal meminjam-pulpen-tanpa-dikembalikan-sampai-akhirnya-hilang. Ya, dia cukup mengisi hari-hariku di kehidupan seragam putih abu-abu ini dengan berbagai keusilannya.
"Iya... iya, Nda. Aku pinjem pulpennya sebentar ya." pintanya, kali ini dengan nada sedikit sopan, tak seperti biasanya.
"Nggak boleh!" jawabku ketus.
"Galak amat sih, Nda. Kalo nggak boleh minjem pulpen, Niko pinjem hatinya Adinda aja boleh?" tanyanya dengan nada genit sambil mengedip-ngedipkan mata.
"Apaan sih, Ko!" 
Aku meggetok kepalanya lagi sambil membalikkan badan untuk berjalan menuju tempat dudukku.
Tiba-tiba ada yang meraih tanganku dari belakang, 
"Aku serius, Nda."
***

"Maaf, Nda. Tapi sekarang aku udah ada yang punya."
Empat tahun berlalu begitu cepat. Dan itu adalah kalimat pertama yang dia ucapkan ketika aku meminta penjelasan setelah satu bulan terakhir kami tak berkomunikasi. Aku serasa tak mengenalinya lagi.
"Kamu bohong!"
"Kapan aku pernah bohong sama kamu?"
"Sering! Kamu selalu bohong sama aku. Dulu kamu bilang itu... Sekarang kamu bilang ini... Kamu bohong!" 
Aku memukul-mukul bahunya, masih berharap dia mengakui semua kebohongan ini. 
"Buat apa aku bohongin kamu?"
"Kamu mau nyakitin aku. Kamu dendam sama aku." 
Aku mengungkapkan segala prasangka burukku terhadapnya.
"Hah? Buat apa? Aku serius sama dia. Karena aku pikir... kita sudah berakhir." 
Ucapnya pelahan, aku merasakan tenggorokannya seolah tercekat saat mengucapkan kalimatnya yang terakhir.
"Nggak... Nggak mungkin." 
Aku masih tak bisa mempercayai ini semua. Aku menangis terisak, dan semakin keras saat dia menghambur memelukku.
"Maafin aku, Nda. Tolong kamu jangan seperti ini. Aku tak kuasa melihatmu menagis." 
Ia berusaha menenangkanku dalam pelukannya. Mengusap kepalaku, menyibakkan rambut yang berantakan menutupi wajah. Matanya berkaca-kaca menatapku, mata yang sangat aku rindukan sebulan terakhir ini.
"Nggak... Sekali enggak pokoknya enggak!" 
Rasannya ingin sekali melepaskan diri darinya kemudian menampar pipinya keras-keras hingga dia mengatakan bahwa ini semua tidak nyata. 
Dia semakin erat memelukku, 
"Kumohon jangan menangis. Aku masih menyayangimu, Nda." Bisiknya pelan namun terdengar tulus. 
Kebimbangan melanda lubuk hatiku yang terdalam. Tuhan, apa yang terjadi sebenarnya? Apa yang harus kulakukan?
Aku melepaskan diri dari pelukannya, mundur satu langkah, menatap matanya lekat-lekat, 
"Perempuan itu, dia cuma pelarian kan, Ko?"
Itu pertanyaan terakhir yang kuharap jawabannya adalah iya. Tapi ternyata dia menggeleng pelan, berbalik menatap mataku dengan lebih tajam, dan memelukku lagi semakin erat.
Dan tembok pertahanan diri yang telah kubangun selama hampir empat tahun ini akhirnya runtuh juga.
"Maafin aku, Nda. Maafin aku..."
Entah berapa lama lagi, tapi aku masih terus ingin menangis di bahunya.

***

"Iya jadi minggu depan aku ada kuliah lapangan ke Kalimantan gitu, Nda. Neliti stupa-stupa di bekas Kerajaan Kutai." 
Dia menjelaskan sembari menyeruput secangkir kopi hitam kesukaannya. Di sudut bibirnya tersisa noda kopi yang belepotan seperti biasanya.
"Hmmm... Semacam seru... Nggak kayak kuliahku yang nggak ada kuliah lapangan. Isinya cuma praktikum melulu di lab. Huuuuuu.... Iri!" Sahutku kesal sambil menunduk lesu.
"Cup...Cup...Cup..., Nda." Dia mengusap rambutku dan sedikit mengacak-acaknya, menenangkanku seperti biasa, menunjukkan lesung pipi andalannya. 
"Salah sendiri mau jadi insinyur, jangan sirik sama aku yang kuliahnya berpetualang terus hahaha..." Tetap saja pada akhirnya dia mengejekku juga.
"Ih nyebelin banget sih..." Aku mencubit lengannya seketika. 
"Eh cewek kamu ikut juga kan ya berarti? Aku ga perlu khawatir kamu tersesat disana berarti, daya ingatmu kan cukup payah hahaha..." Aku gantian mencibirnya.
"Iya, Nda. Putri ikut kok. Tenang aja dia bisa diandalkan dalam hal menjagaku, nggak kayak kamu..." 
Mendengar kalimatnya yang terakhir tentu saja sontak membuat kami berdua tertawa terbahak-bahak. Kalau saja aku mendengar kalimat itu setahun yang lalu, pasti aku sudah menangis tersedu dan marah kepadanya. Tapi sekarang hal itu justru menjadi bahan tertawaan kami berdua, namun tetap menjadi kenangan yang tak terlupakan tentu saja.
"Hahaha... Sial ya kamu, Ko. Tau deh mentang-mentang udah ketemu yang cocok di hati."
"Iya dong. Niko sama Putri udah cocok banget nih. Adinda jangan sirik ya!"
"Ngapain juga sirik. Yang penting kan aku sama pacar kamu masih cantikan aku wekkkk..." Aku menjulurkan lidahku, mencibirnya karena tak mau kalah.
"Hahaha pasti deh kamu ngeluarin senjata yang itu. Dasar nggak pernah mau kalah ya kamu ini. Kalo masalah cantik emang deh kamu nggak ada tandingannya, Nda." Candanya sambil mengedip-ngedipkan matanya genit. 
"Eh tapi kan cinta itu datangnya dari hati, Nda. Walaupun Putri nggak secantik kamu, tapi dia udah meluluhkan hatiku nih..." Dia melanjutkan tawanya.
"Iya deh iya percaya deh yang udah nggak bisa dipisahin. Burun nikah aja deh sana, Ko!" Aku sendiri juga tidak bisa berhenti tertawa mendengar guarauannya.
"Biarin ye... Kapan lagi bisa menang dari kamu, hahaha... Kamu sendiri gimana, Nda? Kok sampe sekarang belum nemu yang cocok sih? Belum bisa move on dari aku ya?" Tawanya semakin lepas.
"Sorry lah ya... Masa' belum bisa move on dari cowok macem kamu. Malu dong!" Kataku sambil mengangkat dagu, tak mau kalah di hadapannya. 
"Aku udah move on lah dari kamu, Ko. Udah dua kali malahan. Sekarang juga lagi deket sama temen aku yang ganteng, pinter, baik pula, nggak kayak kamu." 
Kutunjukkan foto lelaki yang memang sedang dekat denganku, tentu saja jauh lebih tampan dari lelaki di hadapanku sekarang ini, yang beberapa tahun lalu kuanggap paling tampan sedunia. Dan kami pun melanjutkan tawa kami bersama-sama.

Aku senang sekarang kami kembali menjadi teman, setelah lebih dari lima tahun waktu berlalu. Ya, teman dalam arti kata yang sesungguhnya. Teman yang selalu jujur satu sama lain, mengungkapkan perasaan apa adanya tanpa ada perasaan malu ataupun sungkan. Tempat berbagi cerita dan pengalaman hidup. Tak ada lagi kesedihan, kemarahan, apalagi dendam. Karena sekali teman, akan tetap menjadi teman.





Bandung, 24 September 2012

Hesti Nuraini
18110030
Teknik Telekomunikasi 2010
Institut Teknologi Bandung

Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT





This entry was posted on September 25, 2012 and is filed under ,,. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response.

Leave a Reply