cerpen for #writers4Indonesia edisi ‘Be Strong, Indonesia #17’






CERPEN SAYA DIMUAT DI BUKU #17 LHOOOO 


ADA YANG MAU BELI?



DAN DARI HASIL PENJUALAN BUKU TERSEBUT, SELURUH ROYALTI DARI BUKU-BUKU TERSEBUT AKAN DIDONASIKAN SELURUHNYA (100%) UNTUK KORBAN BENCANA ALAM DI INDONESIA, YANG AKAN DISALURKAN MELALUI LEMBAGA TERPERCAYA YANG AKAN DIPILIH.




CARA BELI BUKU #WRITERS4INDONESIA ADALAH: EMAIL KE: WRITERS4INDONESIA@GMAIL.COM ; SUBJECT: ‘ORDER BUKU’, LALU TULIS NAMA, ALAMAT, NO HP, ORDER JUDUL: (BUKU #XX), JUMLAH ORDER;

HARGA PERBUKU: RP 45.000,-

ADMIN KAMI AKAN MEMBALAS EMAIL TSB BESERTA INFO PEMBAYARANNYA.

TERIMAKASIH INDONESIA!



@nulisbuku #writers4indonesia


"Mengapa Aku Dilahirkan Sebagai Seorang Perempuan"

Hari ini bisa dibilang Bella datang terlalu pagi ke kampus. Belum ada seorang pun di dalam kelas, padahal jam di tangan kirinya sudah menunjukkan pukul 06.30. Bella sebenarnya sudah tahu benar bagaimana bangku perkuliahan,


dimana 50% mahasiswa datang 5menit sebelum kuliah dimulai, 25% yang lain datang saat kuliah dimulai, dan 25% sisanya datang terlambat. Namun mau bagaimana lagi, dia sudah jenuh di kamar kosnya. Semalaman ia tak bisa tidur. Hanya memejamkan mata sejenak namun kemudian terbangun lagi seiring bayangan sosok yang terlintas di kepalanya. Begitu terus berulang kali, sampai akhirnya ia tak berani memejamkan matanya lagi. Karena setiap menutup mata bukan kegelapan yang ia dapat tapi justru secercah cahaya super terang yang menyilaukan. Saat cahanya itu kian meredup samar samar muncullah sosok itu, wajah seorang lelaki yang sangat tidak asing baginya akhir-akhir ini. Wajah yang beberapa minggu terakhir menghiasi mimpi – mimpi indahnya. Namun semenjak beberapa hari yang lalu keadaan berbalik 180 derajat. Wajah itu menjadi sangat tajam dan selalu menghantui pikiran Bella. Sebenarnya ia sadar betul mengapa hal itu terjadi padanya. Ya, Bella tahu betul semua itu terjadi semenjak ia menjadi sangat terobsesi pada lelaki yang ada di kepalanya itu.

            “Selamat Pagi!” suara seseorang membuyarkan potongan potongan pikiran yang ia coba susun. Ruang kelas sudah tiga perempat penuh. Salam dari dosen menjadi pertanda dimulainya kuliah pagi itu. Bella menegakkan badan, merapikan baju dan jaket yang ia kenakan, kemudian sedikit menyisir rambutnya dengan tangan. Hal yang selalu ia lakukan saat ia sedang sedikit gugup.
            “Hari ini kita akan membahas teori mekanika kuantum…” Bella celingak-celinguk, pandangannya menyapu seluruh penjuru kelas. Kata-kata dosen tak lagi terdengar olehnya. Yang ada di pikirannya saat ini hanya satu orang, dan yang pasti bukan dosen kimia yang sedang berdiri di depan saat ini. Ia menoleh ke kanan, dari depan sampai belakang ia perhatikan wajah teman temannya satu per satu. Tidak ada. Ia balik menoleh ke kiri. Semua orang yang dilihatnya sedang memperhatikan dosen yang mengajar. Ia menoleh ke kanan lahi. Ah itu dia! Disana. Sosok yang Bella cari dari tadi ada disana. Duduk manis di sayap kanan tiga baris dari depan. Jantung Bella berdetak cepat, namun ia tersenyum. Bisa melihat sosok itu dari jauh saya sudah membuatnya senang. Kelasnya memang termasuk kelas besar. Ada  hampir dua ratus mahasiswa yang ada disana, jadi tidak heran jika mereka tidak terlalu memperhatikan satu sama lain. Namun tidak dengan Bella. Ia masih bisa memperhatikan satu diantara ratusan mahasiswa yang ada dalam ruangan itu. Dan saat-saat seperti ini adalah  waktu yang paling ia tunggu-tunggu tiap kali kuliah. Memandangi lelaki itu.
            Tak ada yang istimewa dari seorang Bijak. Ia tak terlalu bijaksana seperti namanya, justru masih sedikit terlihat sedikit kekanakkan. Ia memang manis tapi tak bisa dikatakan sangat tampan juga. Badannya lumayan tegap. Potongan rambutnya juga biasa saja. Dia memang baik walaupun kurang sedikit ramah dan kurang peduli pada lingkungan sekitarnya. Namun apa yang membuatnya begitu special dimata Bella sampai sampai menghantuinya tiap malam? Entahlah, Bella juga tak tahu. Tiap kali ia menanyakan hal itu pada dirinya sendiri, ia hanya berpegang pada satu jawaban, “seseorang istimewa di mataku karena dia memang istimewa, tak perlu alasan untuk menyukai seseorang bukan?”
            Satu jam kuliah telah berlalu, Bella masih saja memandangi Bijak. Tanpa terduga Bijak menoleh tiba-tiba. Dalam sepersekian detik Bella langsung memalingkan wajahnya, pura-pura memperhatikan dosen. Tangannya buru-buru meraih pensil di meja kemudian digerakkannya seolah-olah sedang mencatat penjelasan dosen.
            “Astaghfirullahaladzim, ngapain sih dia noleh kesini?” Jatung Bella berpacu cepat, darahnya mengalir deras ke seluruh organ tubuhnya. Bella mencoba tenang. Pelan-pelan matanya melirik ke arah Bijak. Sekilas ia melihat Bijak masih menoleh ke belakang. Entah ke arahnya atau bukan, yang jelas Bella langsung melihatke depan lagi ke arah dosen.
            Tiba-tiba Bella merasa benci. Bayangan itu kembali muncul. Bayangan yang menghantuinya beberapa malam terakhir. Bayangan yang tak seindah saat awal ia mulai memperhatikan Bijak. Bayangan yang membuatnya menyadari kodratnya sebagai seorang perempuan. Setiap kali mengingat kenyataan itu dadanya terasa sesak. Menahan perasaan bahwa dia menyukai seseorang dan tidak dapat mengungkapkannya hanya karena satu kalimat, “Aku adalah seorang perempuan.” Bella geram. Ia merasa dunia begitu tidak adil. Mengapa perempuan dianggap tidak pantas untuk menyatakan persaannya terlebih dahulu? Mengapa perempuan hanya bisa diam?  Mengapa perempuan hanya bisa menunggu? Mengapa harus ada norma-norma yang menggariskan apa yang dianggap pantas untuk dilakukan oleh seorang perempuan dan apa yang tidak pantas. Kenapa dia harus selalu lari dari Bijak? Padahal dalam hati ia sangat ingin mengenal lelaki itu lebih dekat, tidak hanya sekedar memandangi wajahnya di kelas dan mengetahui segala kegiatannya dari timeline twitter. Bella benci pada dirinya sendiri. Dirinya yang begitu terobsesi pada Bijak. Dirinya yang begitu bodoh karena menyukai lelaki yang entah mengenalnyapun sepertinya tidak. Bella benci Bijak. Lelaki yang membuatnya tidak bisa tidur hampir tiap malam. Lelaki yang mencuri perhatiannya sepanjang perkuliahan. Lelaki yang sama sekali tak peduli Bella ada ataupun tidak.
            Tapi Bella tetap saja kembali mengalihkan pandangannya ke bangku depan sebelah kanan. Bijak sudah menghadap depan lagi. Bella memusatkan perhatiannya lagi ke lelaki itu. Sebenci apapun, ia tetap tidak bisa mengalihkan perhatiannya pada Bijak. Pikirannya kacau. Berputar-putar pada satu pertanyaan. “Mengapa aku dilahirkan sebagai seorang perempuan?” Bella menerawang, andai ia seorang laki-laki, ia pasti akan langsung menyatakan perasaannya pada orang yang disayanginya, memberikan perhatian pada orang yang dikasihi, tanpa perlu menahan perasaannya, tanpa perlu terus-terusan menyakiti hatinya sendiri. Bella menyesalkan, kenapa ia tak bisa mencurahkan kasih sayangnya pada seseorang yang sangat ia harapkan hanya karena ia seorang perempuan.
            “Jadi tugas dikumpulkan minggu depan. Jangan lupa mempersiapkanUTS dua minggu lagi. Selamat pagi.” Kelas akhirnya berakhir. Mahasiswa langsung berhamburan menuju pintu terdekat. Bella berdiri, memantapkan hatinya. Ia sudah memikirkannya, tak ada lagi keraguan. Ia segera beranjak sebelum berubah pikiran. “Bijak!” ia berteriak, memanggil lelaki yang sudah berada di ambang pintu. Merasa dipanggil, lelaki itu menoleh. Wajahnya tampak kebingungan, mencari-cari siapa yang barusan memanggilnya. Bella berjalan menghampiri lelaki itu di kala hampir semua mahasiswa lain sudah keluar dari kelas. Lelaki itu semakin bingung, seperti mencoba mengingat siapa gadis yang sekarang sudah berada sekitar satu meter di depannya. Keduanya diam. Sama-sama bimbang untuk mengucapkan barang sepatah kata.
            “Perkenalkan, namaku Bella. Aku harap aku bisa mengenalmu lebih jauh setelah ini, Bijak.” Wajahnya tampak malu namun berseri-seri saat memperkenalkan diri. Namun belum sempat ditanggapi, gadis itu langsung berlari menuju pintu keluar. Ia merasa sangat malu, tapi sekaligus lega telah menumpahkan segala yang selama ini terpendam dalam hati dan otaknya. Sedangkan Bijak hanya bisa diam. Terlalu kaget dengan yang baru saja terjadi, sekaligus bingung kenapa gadis iu langsung lari meninggalkannya. Ya, Bella terus berlari sampai keluar kampus, dengan tetap tersenyum sumringah, “Sepertinya malam ini aku tidak akan mimpi buruk lagi, Bijak!”












Bandung, 15 November 2010
Hesti Nuraini

This entry was posted on January 11, 2011 and is filed under . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response.

2 Responses to “cerpen for #writers4Indonesia edisi ‘Be Strong, Indonesia #17’”

  1. he? pinter apanya?
    anyway makasih ya sudah berkunjung di blog saya hehehe :)
    keep reading!

    ReplyDelete