Showing posts with label poetry. Show all posts

Happy Birthday Putu Adhika Bayu Bramantya

No Comments »

The one who always make me laugh.
I wish he always laugh in every ups and downs of his life.

The one who always make me happy.
I wish him happiness in his every single adventurous day.

The one who always make me feel grateful for having.
I wish him having great day everywhere he is, everything he does.

The one who turn 24 today.
I wish him a super belated birthday.

Happy birthday Putu Adhika Bayu Bramantya.
I wish you a lot.
I miss you a lot.


Bandung, 28 May 2016
Hesti Nuraini

Melipat Jarak

No Comments »

/1/
jarak antara kota kelahiran
dan tempatnya tinggal sekarang
dilipatnya dalam salah satu sudut
yang senantiasa berubah posisi
dalam benaknya
/2/
jarak itu pun melengkung
seperti tanda tanya
/3/
buru-memburu dengan jawabnya
- Sapardi Djoko Damono

*Terima kasih untuk inspirasinya, Sapardi*

/1/
Jarak ini menjauhkan raga namun juga mendekatkan jiwa.
Semoga…
Semoga semua tetap berjalan, sejalan, dan senantiasa beriringan.
Hingga sampai pada tujuan.
/2/
Mari melipat jarak diantara kita
/3/
Bukan jarak yang berkata
Tapi siapa yang berada

Bandung, 24 Januari 2016
Hesti Nuraini

Begitu Pula Rindu

No Comments »

Resah di dadamu
Dan rahasia yang menanti di jantung puisi ini
Dipisah kata-kata
Begitu pula rindu
Lihat tanda tanya itu
Jurang antara kebodohan dan keinginanku
Memilikimu sekali lagi
- Rangga, dalam AADC2

*AADC, You got me at "BEGITU PULA RINDU"*

Ketika pagi hadir menyapa
Tak ada tanya yang terkata
Begitu pula rindu
Ketika malam datang mendera
Tak ada jawab yang mampu membuka
Begitu pula rindu


Bandung, 24 Januari 2016
Hesti Nuraini

Dia

No Comments »

Dia yang akhirnya kujumpa setelah sekian lama.
Ekspresinya ketika mencari-cariku selalu begitu tiap kali kami hendak bertemu. Caranya berjalan ketika menghampiriku tak berubah sejauh yang bisa kuingat. Senyumnya masih sama sejak terakhir kali aku melihatnya.
Pipinya makin bulat. Lengannya makin besar. Aku yakin berat badannya bertambah beberapa kilogram.
Kacamata andalannya masih dipakai. Membuat mata lentiknya tetap mempesona.
Dia masih sama lucunya ketika membuatku tertawa. Suaranya tak pernah berubah baik di telepon maupun ketika kudengar langsung, masih sama kekanakannya.
Dia yang selalu membuat benci ketika rindu. Dia yang selalu meluluhkan hati tiap kali bertemu.


Solo, 23 Maret 2015
Hesti Nuraini

Catatan Rindu Jilid 1 (1-13)

No Comments »

Rindu (1) - 13/11/14
Aku tak lagi mampu berucap.
Hanya ada rindu yang tersekap di sela-sela harap untuk bertatap.


Rindu (2) - 14/11/14
Di bulan ke-20 ini aku tak akan lagi mengeluh.
Senantiasa memanjat doa untuk memelukmu dari jauh.


Rindu (3) - 16/11/14
Aku tak tahu sampai kapan kubisa bertahan.
Jarak ini menjauhkan raga namun juga mendekatkan jiwa.
Semoga… semoga semua tetap berjalan, sejalan, dan senantiasa beriringan.
Hingga sampai pada tujuan.


Rindu (4) - 26/11/14
The one who always make me laugh.
I miss him.
A lot.
The one who always make me feel grateful for having.
I miss him.
A lot.


Rindu (5) - 20/12/14
Ilmu kini hampir mencukupkan keingintahuan kita, tapi arah angin malam tetap jauh dari terka, apalagi rindu tak terkata. - Adimas Immanuel.


Rindu (6) - 07/01/15
Kayaknya nggak pernah ada di fase dimana bosen setiap hari ketemu. Tapi sekarang ada di fase bosen karena nggak pernah ketemu.


Rindu (7) - 23/01/15
Konspirasi banget! Kemarin baca novel settingnya di sianjur mula-mula, samosir, dan sekitarnya. Sekarang nonton Bolang, rumahnya si Bolang deket Danau Toba.
Pasti lah ini konspirasi si bocah yang lagi kerja di Siantar dan kerjaannya nyebrangin Danau Toba buat cek site ke Samosir.
Huftina.


Rindu (8) - 05/02/15
Bertemu.
Satu kata yang selalu ditunggu.
Agar hati tak lagi saling merindu.


Rindu (9) - 06/02/15
Buat apa rindu kalau sudah yakin (dan pasti) tidak akan bisa bertemu.


Rindu (10) - 21/02/15
Gerimis turun perlahan
Wajah kekasih membayang
Dalam daun-daun yang basah
Diriku resah
Menanti pertemuan yang tenang
Cinta, kasih, dan sayang
Tuhan
Tolong damaikan
Hatiku yang gamang
- Khairul Azzam (Ketika Cinta Bertasbih, Buku #2 Dwilogi Pembangun Jiwa)


Rindu (11) - 28/02/15
Rindu tak pernah definitif. Sejumlah kenangan meliuk-liuk di pucuk waktu.
- Adimas Immanuel


Rindu (12) - 20/03/15
Saling mendoakan lebih penting daripada berjumpa.
Bertemu sesekali lebih menguatkan cinta daripada selalu bersama.
- Salim A. Fillah


Rindu (13) - 23/03/15
Dan ternyata rindu selama lima purnama hanyalah fana ketika kita akhirnya berjumpa.



Ditulis setiap kali merasa rindu,
Oleh Hesti Nuraini,
Teruntuk Putu Adhika Bayu Bramantya.


catatan kecil hari ini

No Comments »

Pagi ini terbuat dari raga yang kelu oleh angkuhnya dunia menyusup di sela-sela semburat embun yang hampir membeku. 05/10/14

Malam ini terbuat dari pesan yang tersampaikan, rindu yang terobati, dan purnama kemerahan yang tertutup awan. 08/10/14

Pagi ini terangkum dari asa yang menuntun di bawah purnama yang masih enggan beranjak dari keheningan. 09/10/14

Siang ini disusun oleh eksitasi yang tinggi dan bukti bahwasanya ketakutan hanyalah ilusi yang dibuat oleh diri sendiri. Dan percayalah semua akan baik-baik saja atas restu bumi. 09/10/14

Siang ini tersusun atas teriknya pilihan-pilihan hidup sebagai penentu kelulusan ujian kedewasaan. 10/10/14

Malam ini adalah haru yang membuncah karena raga yang akan berjarak antara dua jiwa yang masih akan selalu terajut. 11/10/14

Pagi ini terbuat dari cerahnya mentari pagi yang menyusun asa perlahan satu per satu untuk selalu mencipta suka dibalik duka yang harus dipendam dalam. 12/10/14

Dan hari ini tercipta dari puluhan ribu langkah yang tertapak beriringan, rekan perjalanan yang merengkuh, serta barisan bunga yang bermekaran, sebelum kaki-kaki ini harus melangkah ke sudut yang berbeda esok hari. 12/10/14


Best Regards,
Hesti Nuraini
Telecommunication Engineering 2010
Bandung Institute of Technology

Dead Line

No Comments »

Terbangun dari tidur kini terasa sesak
Terhenyak seketika tiap kali membuka mata
Langkah gontai menuju pintu
Harga mati untuk tetap dijalani

Teman-temanku semua berteriak
Ada yang lantang menyeruak
Ada yang hanya dalam pikiran
Namun aku yakin semuanya berteriak
Semuanya berontak
Tak ada lagi yang hanya diam
Tak ada lagi
Tak ada waktu

Beberapa mengumpat
Beberapa menangis lirih
Dan tak banyak yang sanggup bijak
Dalam keos kudengar ia bertutur pelan
Tiap insan ada naik turunnya
Rezeki tak mungkin tertukar
Tak perlulah saling mencerca

Orang-orang makin riuh
Berlarian kesana kemari
Bersiap tuk hadapi
Garis yang semakin mendekat itu


Best Regards,
Hesti Nuraini
Telecommunication Engineering 2010
Bandung Institute of Technology
+6285 647 332 442
Sent from Yahoo! Mail on Android

Biasanya aku suka malam, tapi kali ini tidak.

No Comments »

Aku bergumam dalam angan
Menghirup resah yang menggantung
Memeluk malam tanpa asa
Menyeruput hangatnya secangkir kepedihan

Aku tak suka kopi
Bukan karena pahit, bukan
Menurutku kopi tak pahit
Ia hanya umm... hanya tak enak saja

Biasanya aku suka malam
Tapi kali ini tidak
Seseorang di masa lalu pernah berkata padaku
Saat siang perasaan selalu bisa ia kendalikan
Tapi saat malam tidak
Sosok yang menjadi lebih jujur ketika malam tiba
Selalu manis berujung romantis

Biasanya aku suka malam
Tapi kali ini tidak
Malam sungguh tak bersahabat belakangan
Ia jadi angkuh
Ia jadi berani untuk membunuh
Ia jadi gemar merajut peluh
Kini malam menjadi musuh
Begitu kata seorang yang kukenal

Biasanya aku suka malam
Tapi kali ini tidak
Ia dingin
Sangat dingin
Terlalu dingin
Lalu meninggalkan dalam diam
Merobohkan tembok pertahanan
Namun membuat semakin kuat
Berdiri di atas kaki sendiri
Tanpa benteng di kanan kiri

Aku kembali bergumam dalam angan
Kembali menghirup resah yang menggantung
Kembali memeluk malam tanpa asa
Dan kembali menyeruput hangatnya secangkir kepedihan

Ah, sungguh aku benci bait-bait ini!


Bandung, 19 Januari 2014

Best Regards,
Hesti Nuraini
Telecommunication Engineering 2010
Bandung Institute of Technology
+6285 647 332 442
Sent from Yahoo! Mail on Android

The peach window

No Comments »

Confusion never stop
Pouring rain and closing door
Fancy lamp can't make it shine
Shining sun doesn't appear yet
I never could explain
You never would understand
The silence covers all
It will make us easier
Waiting for the passing storm
A love song played loudly
Filling the dirty empty room
Trying to catch fire in the dark
Ticking clock and clicking mouse
Warm blankets keep me save
Some biscuits and potato chips
Body lotion to make it smooth
It's still hard raining outside
I used to be on fire
But now it's cold inside


Bandung, January 18 2014

Best Regards,
Hesti Nuraini
Telecommunication Engineering 2010
Bandung Institute of Technology
+6285 647 332 442
Sent from Yahoo! Mail on Android

Hari Ini Sendiri

No Comments »

Rintik hujan di kala senja
Mentari yang lebih cepat ingin sembunyi
Pertanda satu musim telah berganti
Menyamarkan lengkungan manis di sudut bibir

Seorang teman yang kukenal sangat periang
Hari ini kudapati ternyata seorang penulis yang melankolis
Kubaca tiap kata yang terpampang di layar
Kuselami cerita yang ia torehkan disana
Sepenuh hati ia utarakan
Sangat jauh dari yang kukenal
Atau mungkin memang aku yang belum mengenalnya

Obrolan super singkat dalam langkah yang tergesa
Di bawah payung yang melindungi terpaan gerimis sore tadi
Tak panjang namun sangat membukakan mata
Sarat akan pelajaran hidup
Memberi secercah cahaya masa depan

Aku lupa bagaimana berjalan sendirian menuju kampus
Aku lupa caranya menjalani hari
Aku lupa rasanya kesepian
Aku lupa bagaimana aku harus bangun sendiri ketika terjatuh
Bahkan aku lupa cara menyemangati diriku sendiri
Aku lupa bahwa dia tidak akan selamanya berada disisi

Manusia beranjak dewasa seiring dengan berjalannya waktu
Kadang tak terduga
Seringkali tanpa disangka

Kedewasaan terkikis tawa
Kemandirian hanyut dalam aliran manja
Ketegaran terhapuskan airmata
Kekuatan tak sanggup mengalahkan ego semata

Bisakah kau izinkan aku untuk sejenak berlari kesana?
Menggapai asa yang sempat mengakar di hati
Demi secercah cahaya yang harus kusiapkan
Untuk menerangi langkahku di masa depan
Atau... bersediakah kau genggam erat jemariku kemudian kita berlari beriringan?


Bandung, 7 Desember 2013
Hesti Nuraini

aku (tidak) suka kau datang

No Comments »

Aku tidak suka kau datang,
Membuat banyak kekacauan di hidupku yang tenang.
Besar, kecil, setiap hari tanpa peringatan.

Kau seperti sekumpulan papan pemberitahuan.
Jelas, tanpa basi-basi, dan sangat menarik perhatian.
Hanya saja bagiku kau sangat membingungkan.

Di sampingku kau selalu banyak bicara,
Di kejauhan pun kau sama saja.
Dan kau selalu meneriakkan namaku dengan gembira.

Aku tidak suka kau datang,
Begitu saja masuk ke dalam hidupku yang tenang.
Denganmu setiap hari berarti kekacauan.
Aku tidak lagi bisa berpikir dan merasa secara perlahan.
Di dekatmu aku melakukannya dengan refleks spontan.

Kau banyak tertawa,
Membuatku banyak bertanya-tanya.
Kau banyak bicara,
Membuatku semakin jengkel pada awalnya.

Aku tidak suka kau datang,
Karena kau membuat kerusuhan dalam kesendirian.
Kau membuat banyak kesulitan,
Dengan kepalaku, dengan diriku, dan kusadari dengan bagian hatiku yang lebih dalam.

Aku tidak suka kau datang,
Tapi kusadari lagi bahwa aku lebih tidak suka kau menghilang.
Dari hidupku yang sekarang terbiasa dengan kekacauan,
Dari hatiku yang terbiasa tidak sendirian.

Aku tidak suka kau datang.
Tapi dengan cara inilah kau membuatku tahu kau menang.
Dengan diriku dan hatiku yang setiap saat kau kacaukan.
Dan pada akhirnya kukatakan,
Aku suka kau datang.


Depok, 5 Maret 2013
By: Fandita Tonyka Maharani
Reblogged from: http://fandita.wordpress.com/2013/03/05/aku-tidak-suka-kau-datang/ 


Bandung, 06 Maret 2013
Hesti Nuraini

menulis tentangmu, Ayah. (2)

No Comments »

Ini adalah tulisan keduaku untukmu, Yah.
Kini aku sudah sedikit lebih mahir dalam menahan air mata saat menulis tentangmu.
Beberapa hari ini aku selalu mengeluhkan usiaku yang akan bertambah bulan depan menjadi 21tahun.
Namun hari ini, rasanya aku tertampar oleh satu hal.
Tepat hari ini usiamu berkurang, 51tahun, lebih dari setengah abad.
I am too busy growing up, then i forget that you are also growing old.
Sungguh tak terasa waktu berlari secepat ini.
Dan aku yakin kau bahkan tak ingat hari ini adalah ulang tahunmu.
Kau kan tak pernah peduli akan hal-hal semacam ini.
Bagimu semua hari itu sama saja.
Bagimu bertambah tua itu sudah semestinya.
Dan terakhir kali aku melihatmu...
Saat itu kau masih belum sehat sepenuhnya.
Bahkan itu adalah kali pertama kau tak ikut mengantarku ke stasiun untuk kembali ke perantauan.
Sungguh tak seperti biasanya.
Sungguh menyesakkan dada.
Aku menangis hampir sepanjang malam di kereta saat itu, Yah.
Tapi seperti biasa, aku tak akan pernah membiarkanmu melihatnya.
Aku kan kuat sepertimu!
Jadi kumohon, Yah.
Jangan pernah lagi engkau terbaring lemah seperti kala itu.
Kau kan Ayahku yang paling setrong!
Kau Ayah paling hebat sedunia!
Berjanjilah untuk selalu menjaga kesehatanmu.
Berjanjilah untuk selalu baik-baik saja.
Hanya berbahagialah, Yah! bersama Ibu.
Yah, aku tau kau pasti tak akan membaca tulisanku ini
Tapi aku yakin, Tuhan Maha Menyampaikan ini semua padamu :)

Semoga panjang umur dan sehat selalu Ayahku tercinta. Aku sangat merindukanmu :*

Tulisan terkait:  menulis tentangmu, Ayah. (1)

Bandung, 05 Maret 2013
Hesti Nuraini

Kekasihku di Kimia

No Comments »

Kasih...
Matamu biru seperti kristal tembaga sulfat
Bibirmu merah seperti kobalt
Kulitmu kuning langsat seperti tembaga klorida

Rambutmu hitam legam seperti karbon
Gigimu putih seperti kristal gula pasir
Engkau sangat cantik memakai gaun hijau
Bagai warna tembaga asetat

Namun mengapa hari ini wajahmu putih pucat pasi
Seperti putihnya magnesium hidroksida
Raut mukamu mendung seperti gula yang dituangi asam sulfat
Reaksi apa yang ada di wajahmu...

Ternyata hatimu beku
Mungkinkah aku bisa memberimu garam dapur
Agar air cintamu tidak membeku
Engkau menghilang bagai air jeruk yang ditetesi Iodin
Hilang dan tak pernah terlihat...

Puisi di atas adalah puisi yang ada di Diary WPT (yang saya temukan kemarin)
Waktu itu kelas XI SMA dan Kimia memang menjadi pelajaran momok bagi kelas kami.
Gatau deh itu puisi asalnya darimana, kayaknya dari majalah MOP deh kalo ga salah hahaha
Alay banget pokoknya!
Tapi ngangenin!
tulisan di diary WPT
ini dia diary WPT!

Bandung, 11 Februari 2013
Hesti Nuraini

maya yang terlalu nyata (2)

No Comments »

lalu,
apa salahnya menjadi maya jika dan hanya jika kita bisa menjadi bahagia?
 ...


*bersambung*


Bandung, 03 Februari 2013
Hesti Nuraini

maya yang terlalu nyata

No Comments »

saat ini tiba-tiba kepalaku pening
jantungku berdegup hebat
anganku menerawang
mengingat besok adalah hari penentuan
karena aku telah dengan bodohnya melewatkan begitu saja beberapa kesempatan yang telah lalu
kesempatan yang aku baru sadar mungkin tak akan datang untuk keempat kalinya
ya, seingatku ini yang ketiga...
seolah ada kupu-kupu yang sedang beterbangan di perutku
hey... apakah kamu merasakan hal yang sama?
ketakutan yang sama?
ketakutan bahwa kita berdua hanyalah maya
ohhh... aku harap tidak
karena kupikir... kita terlalu nyata untuk menjadi maya!


Bandung, 02 Februari 2013
Hesti Nuraini

tentang piano dan seekor macan besar

No Comments »

aku hanya seorang anak kecil
berambut panjang
dikepang dua
berpita merah
duduk disini dengan rok merahku...
aku hanyalah seorang anak kecil
yang suka musik
yang suka bernyanyi
sekarang aku sangat ingin bermain musik
tak hanya mendengar
tak hanya berdendang
aku ingin bisa menghasilkan nadanya
mencipta melodinya
merasa iramanya
aku ingin bisa bermain piano...
memainkan tuts tuts di hadapanku ini
aku ingin
aku ingin
aku ingin bisa...

namun tiba-tiba...
seekor harimau besar datang
menyeruak tepat di hadapanku
di atas pianoku
meraum keras-keras beberapa centimeter dari ujung hidungku
aku takut!
ia terus meraum
tapi tak bergeming dari tempatnya
aku takut!
aku menutup mata
tapi ia tak menerkamku
aku takut!
namun mulai bertanya-tanya...


aku menekan keras-keras beberapa tuts dengan kesepuluh jariku sekaligus
kemudian ia terdiam
aku menerka-nerka...
apa gerangan yang ada di pikirannya
aku melihat matanya
kulihat bayangan kecilku ada disana...

aku menekan nada do-re-mi perlahan secara berurutan
dia menyeringai
bibirnya melengkung ke atas
semacam membentuk senyuman kupikir...
aku melanjutkan menekan nada fa-sol-la perlahan
kali ini sembari tersenyum...
ia mundur selangkah
kali ini raumannya memelan
aku kembali menerka
mungkin ia suka musik...
atau mungkin...
ia hanya ingin bernyanyi bersamaku...


Bandung, 01 Februari 2013
Hesti Nuraini

sepotong mimpi di musim gugur

No Comments »

diterpa angin sepanjang tahun
rintihan hujan menerpa wajah
dari timur pancaran sang raja kehidupan
silaunya mencabik mata
panasnya merangsang peluh
ingin sekali ia beranjak
melangkah dengan tegak
bak penguasa hutan yang menyeruak dari sarangnya
ingin sekali ia lari
lari dan terus berlari
ke segala penjuru mata angin
kemanapun akan ia tempuh
asal tak lagi disana!
angannya beterbangan
liar membelah langit
tinggi menembus awan
angan jadi harap
harap jadi mimpi
mimpi tinggalah mimpi
mimpi sebatang pohon akasia di musim gugur...



Bandung, 01 Februari 2013
Hesti Nuraini

malam, maaf kau harus mendengar

No Comments »

bahkan sedikitpun tak terperi
dalam hati
kusimak, kuyakini
kutelan baik-baik dalam diri

lihat
tak yakinkah kau dengan penglihatanmu
melihatku berjalan ragu
tiap inci kebebasan kuberi
berganti penyesalan, jiwaku terpaut. takut

malam
engkau begitu menawan
gelapmu terangi aku
senyap
sekelebat kenangan
memporakporandakan lamunan

malam
maaf kau harus mendengar
keluhku
kesahku

tolong sampaikan saja pada pagi
aku masih ingin menikmati malam, sendiri
Di Tempat Aku Bersandar - Ageng Bella Dinata, 2012.
(taken from: http://abelladinata.blogspot.com/2012/10/ditempat-aku-bersandar.html)

Hari ini adalah hari pertama di tahun 2013, jadi first of all saya ucapkan SELAMAT TAHUN BARU 2013 untuk semua yang udah mampir di blog ini :D xoxoxoxo... setelah seharian kemarin diliputi kesedihan karena rencana acara tahun baruan keluarga gagal karena bapak, naraya, dan saya sendiri sedang sakit, hingga bahkan saya tidak melihat terjadinya pergantian tahun. Tidur jam 9 malam, bangun-bangun sudah adzan subuh di tahun yang sudah bertambah 1, 2013. Walaupun masih diliputi kesedihan karena beberapa masalah di tahun 2012 yang belum terselesaikan, saya masih terus optimis bahwa tahun ini akan lebih baik dari tahun kemarin! Amin!

So, apa hubungannya sama puisi di atas? Haha entahlah puisi karya partner-in-crime-in-writing saya di atas lumayan menggambarkan keinginan saya malam ini untuk berkeluh kesah. Btw, udah lumayan lama juga saya ga berbagi cerita sama partner saya yang satu ini, bahkan blog lamanya udah dihapus aja saya nggak tau padahal masuk ke blogroll saya hiks :( Blog barunya pun rasa-rasanya kurang update, hmmm mungkin beliau memang lagi sibuk, semoga sukses selalu ya, pak dokter! ditunggu tulisan-tulisan galau nya, mbett :p

Oke seperti yang udah saya bilang, malam ini saya pengen berkeluh-kesah, hmm sedikit aja deh... Yah, walaupun Tuhan Yang Mahatahu pasti sudah tahu apa yang ingin saya katakan. Malam, maaf kau harus mendengar, karena saya tak tahu lagi kepada siapa harus mengungkapkannya. Saya pengen banget teriak, "Kenapa kamu baru sadar sekarang kalo kamu jahat?! Ha?! Baru sadar setelah kamu ngeliat dia juga bisa bahagia tanpa kamu?!" (pengen di-capslock sih sebenernya, tapi yaudahlahya...) Masih bangga jadi orang egois? Yang bakal eksis di tahun 2013 itu orang baik. Jadi orang jahat mah udah ketinggalan jaman! xoxoxo :p Ok. Udah. Cuma itu yang pengen saya keluh-kesah-in :)

Sekarang saya pengen banget BERENANG!!!



Solo, 01 January  2013
Hesti Nuraini

untukmu yang kusayangi dalam diam

4 Comments »

seharian ini aku banyak tersenyum
kamu tahu kenapa?
ya, tentu saja karenamu
siapa lagi memang orang yang paling bisa membolak-balikkan perasaanku selain kamu
kamu yang kian hari kian keren
kamu yang semakin hari semakin kukagumi
dan kamu yang tak tau apa-apa tentang semua perasaanku ini padamu
karena kurasa kamu memang tak perlu tahu
sudah cukup bagiku bisa menjadi temanmu
sudah cukup bagiku melewati hari bersamamu
dan sudah sangat cukup bagiku bisa tertawa denganmu

ya, kamu tahu kan aku tak ingin mengacaukan hubungan kita yang sudah sangat baik ini
aku tak ingin kamu tiba-tiba menjauhiku hanya karena kamu tahu aku suka padamu
tidak...tidak... pokoknya kamu tak boleh tahu bahwa aku menyukaimu
aku tak ingin kejadian seperti itu terjadi lagi padaku
hmmm... ya aku hanya tak mau lagi merasakan kekecewaan semacam itu
aku masih ingin melindungi hatiku agar tak tersayat luka yang sama
bagiku mencegah lebih baik daripada mengobati
jadi lebih baik mencegahmu untuk mengetahui semua perasaanku padamu
daripada aku harus menjelaskan panjang lebar padamu mengapa aku menyukaimu

aku sudah sangat bahagia bisa berada di dekatmu tiap hari
bisa mengingatkanmu tentang tugas kuliah
atau mengingatkanmu untuk terus menjaga kesehatan di musim seperti ini
sungguh itu sudah lebih dari cukup untukku
aku ikhlas walau kamu terkadang tak menghiraukanku
aku bahkan sangat ikhlas saat kamu menceritakan wanita lain yang yang sedang kau sukai
bisa menjadi pendengar keluh kesahmu saja aku sudah sangat senang
apalagi saat kamu menjadikanku orang pertama yang mendengar curahan hatimu
aku sangat amat berterima kasih
ya, aku ikhlas... sungguh...
aku tak mengharapkan apa-apa darimu
lebih tepatnya aku tak berani berharap apa-apa padamu
bagiku, seperti ini saja sudah sangat baik
i'm fine. really fine.

tak pernah aku merasa sebebas dan sebahagia ini
ya, kebebasan untuk menyukaimu
aku menikmati tiap detik gejolak hatiku saat menatap matamu
aku menikmati tiap detik jantungku berdetak saat berada di dekatmu
aku menikmati tiap detik kegugupanku saat bercakapan denganmu
aku menikmati tiap detik berbunga-bunganya hatiku saat kita tertawa bersama
aku menikmati kebebasan ini
kebebasan karena kau tak mengetahuinya

seorang teman pernah bertanya padaku,
"bagaimana kamu bisa bertahan memendam perasaan seperti itu?"
dan aku hanya bisa menjawab,
"nikmati saja saat-saat menyukai seseorang"
"ikhlaskan, maka semua akan baik-baik saja"
and yes, it works!

yang jelas semakin hari aku semakin menyayangimu
namun diam masih menjadi sahabat terbaikku saat ini,
dan entah sampai kapan...
kuserahkan semuanya pada Sang Maha Membaca Hati dan Maha Mengetahui yang Terbaik Untukku
aku tak pernah berharap kamu membaca tulisanku ini
dan jika kamu tak sengaja membaca pun, aku berharap kamu mengira aku menulis ini untuk lelaki lain
karena aku tak pernah berharap kamu mengetahui seberapa besar aku menyayangimu
karena aku sudah cukup bahagia melihatmu bahagia, teman :)


Coffe Prince - eps.6

Bandung, 22 November 2012
Hesti Nuraini

untukmu yang meninggalkanku dalam diam

2 Comments »

terima kasih telah mengajarkanku ilmu ikhlas :)

kamu yang pergi begitu saja
meninggalkanku dalam diam
aku tak ingin mengungkit lagi dosa-dosamu
aku bahkan tak ingin mengingat-ingatmu
aku hanya tersadar akan jasa besarmu
terima kasih,
kepergianmu perlahan membangun karakterku

kamu yang menebas hatiku dengan parang pengkhianatan
terima kasih telah menguatkanku
kini aku kebas terhadap goresan pedang kebohongan
apalagi hanya duri-duri kecil pengabaian yang menancap disana

aku sudah memaafkan semua kesalahan yang selalu kau anggap pembenaran itu
aku sudah melupakan semuanya, ya semuanya
mungkin kamu tak percaya aku bisa melupakan, bahkan memaafkan
asal kamu tahu,
aku bukan pendendam lagi seperti yang dulu
dan kamu tahu itu karenamu
karena kepergianmu telah kumaafkan
dan sekarang aku hanya ingin berterima kasih padamu

keberterimaanku itu juga membuatku tak lagi egois seperti yang dulu
aku pun hanya bisa tertawa bahagia saat menyadari egoku yang sepertinya telah pergi seiring kepergianmu dariku
keegoisan yang membunuh itu mungkin ikut lari bersama bayangmu
terima kasih telah membawanya pergi dariku

terima kasih pula telah memberiku kesabaran yang berlebih
seiring kepergianmu,
aku menjadi lebih sabar menghadapi kerasnya dunia
dunia memang terkadang tidak adil
dan berkat kamu, kini aku tahu,
bahwa yang aku butuhkan hanyalah kesabaran untuk menghadapi ketidak adilan itu
hanya kesabaran,
ya, kesabaran yang selalu bisa membuatku bertahan
terima kasih, kepergianmu telah mengasah kesabaranku

belakangan aku juga berfikir
mungkin dulu kamu terlalu memanjakanku
dan sampai saat aku harus hidup tanpamu
aku merasakan sisi kemandirianku
aku bahkan terkesiap menyadari ini
terima kasih sekali lagi kuucapkan padamu
aku menjadi mandiri setelah kau tinggalkan
kepergianmu membuatku semakin tangguh
 
sekarang jika kamu ingin aku minta maaf
oke, aku minta maaf
aku tak akan lagi menyalahkanmu
aku justru berterima kasih padamu
kepergianmu, pengkhianatanmu, dan semua hal tentangmu telah mendewasakanku
semua kesakitan yang kau toreh membuatku semakin kuat
semua luka itu telah mengering dan pada akhirnya justru menguatkanku
aku tulus berterima kasih padamu
karena kamulah yang mengajarkanku tentang ketulusan
ketulusan untuk melepaskan

kini jika aku merasakan sakit
aku tak lagi mengeluh
sembari tersenyum, aku hanya berkata,
"aku pernah merasakan yang lebih sakit daripada ini kok. jadi aku pasti bisa bertahan."
"ikhlaskan, maka semua akan baik-baik saja."

hey! terima kasih telah mengajarkanku ilmu ikhlas :)




Bandung, 24 November 2012
Hesti Nuraini